Kemaksiatan Akan Menghalangi Seseorang Dari Al Qur’an (Sebuah Kisah Nyata)

——

“Kalo ngaji di musholla, di mesjid, bukan di kereta.” Sindir seseorang.

Saya terhentak kaget mendengarnya, padahal kedua orang itu membaca Al Qur’an dengan suara pelan yang tidak menganggu sekitarnya, hanya kebetulan saja mereka memang berdiri dekat orang tersebut.

Orang ini yang dari tadi ribut bersuara keras, tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya di kereta itu sepertinya merasa risih dengan kedua orang tadi yang membaca Al Qur’an di HP mereka.

Suara bacaan lirih Al Qur’an yang hampir-hampir tidak bisa didengar itu ternyata sanggup membuatnya gerah.

Ya, dia risih dan gerah, karena pada saat itu ia dan teman-temannya sedang saling bercanda. Ia bercanda sambil menunjukkan konten mesum yang ada di HPnya sambil berkata,

“Mending ini daripada narkoba.”

“Istri gue demen juga ginian.”

Tanpa malu dan bangga ia melakukan itu di depan umum.

Salut dan kagum saya kepada kedua orang tadi, mereka tak peduli, tetap terus melanjutkan bacaan Al Qur’an mereka.

Akhirnya, topik pembicaraan gerombolan itu pun berganti, entah karena merasa risih atau bagaimana.

Sekilas saya lihat orang itu mengubah posisinya dari berdiri menjadi duduk di lantai, mungkin agar suara bacaan Al Qur’an kedua orang tadi tidak terdengar olehnya.

Ya, begitulah dampak dari kemaksiatan. Bahkan sekedar untuk mendengar Firman Allah, perkataan Tuhannya saja, ia enggan. Melihat orang lain melakukan ketaatan, ia pun benci.

Kemaksiatan yang sudah menguasai hati akan membuat seseorang membenci Al Qur’an, membenci kebaikan dan para pelaku kebaikan.

Jika tidak percaya, cobalah anda banyak bermaksiat kemudian lanjutkan dengan membaca Al Qur’an, niscaya hati anda akan sangat berat untuk memulainya. Ketika anda hendak membacanya, lidah serasa kelu untuk mengeluarkan suara, anda pun ingin segera menutup mushaf.

Jika Al Qur’an saja sudah berat untuk dibaca, maka bagaimanakah lagi seseorang itu bisa hidup bahagia?

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”.
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. [Al-Muthaffifin : 13-14]

Ustadz Boris Tanesia, حفظه الله تعالى

______________________
📌 Kita sama-sama peduli dengan dakwah utama dan prioritas, yaitu tauhid dan aqidah. Anda bisa ikut aktif, caranya ketika mendapatkan tulisan ini, bagikan kembali di sosial media yang Anda punya dan seterusnya sehingga dakwah tauhid tersebar.

📲 Daftar Broadcast “Indonesia Bertauhid”
Instagram : iTauhid.com/instagram
WhatsApp : iTauhid.com/whatsapp
Facebook : iTauhid.com/facebook
Telegram : iTauhid.com/telegram
Twitter : iTauhid.com/twitter
LINE : iTauhid.com/line
BBM : iTauhid.com/bbm
______________________
 Silakan disebarluaskan

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *